Bukan Hasil, Melainkan Proses

Hasil memang penting. Hasil merupakan ujung dari proses yang telah dilalui dan dilakoni. Namun dibalik pentingnya hasil, proses memiliki kadar yang jauh lebih penting. Darinya kita bisa mengerti tentang seni dan nilai dari perjuangan. Darinya pula kita bisa menghargai hasil. Tanpa proses, hasil yang didapatkan tidak akan berarti apa-apa.

Proses versus Hasil

Hasil takkan ada tanpa proses, dan setiap proses pasti berakhir pada hasil. Diam-pun merupakan sebuah proses. Tergantung dari alasan mengapa Anda memilih diam. Jika Anda diam untuk berpikir, maka besar kemungkinan Anda akan menghasilkan sebuah strategi. Namun jika Anda diam karena merasa tidak punya masalah; yaitu diam tanpa berpikir, maka kemungkinan hasilnya hanya 2: stagnan atau bahkan mengalami kemunduran. Jarang sekali ada yang sukses hanya dengan berdiam diri (baca: karena keajaiban).

Pernahkah Anda membaca sebuah kisah seorang anak yang diwarisi saham perusahaan oleh ayahnya lalu berakhir dengan kebangkrutan dan menyisakan hutang? Atau kisah seseorang yang mendapat uang milyaran rupiah namun hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat uangnya habis entah kemana kemudian kembali hidup miskin? Demikian itu adalah contoh hasil tanpa proses. Bandingkanlah dengan orang yang memulai segalanya dari nol, bahkan minus (baca: hutang). Anda bisa melihat kisah Steve Jobs (Apple) dan Larry Page & Sergey Brin (Google) yang memulai usahanya dengan berkantor di garasi dengan segudang masalah pada awal perintisan bisnisnya. Mereka telah memberikan pelajaran besar kepada kita semua tentang pentingnya sebuah proses.

(Baca juga: Pentingnya Integritas dalam Bisnis)

Proses

Poin ini didaulat sebagai poin yang lebih penting dari hasil. Dari presentasi seminar yang dibawakan oleh Prof. Hamdan Juhannis, Ph.D pada 20 November 2015, ada sebuah poin menarik yang dijelaskan yang berkaitan dengan proses.

Prof. Hamdan Juhannis, Ph.D adalah professor termuda di salah satu universitas negeri di kota Makassar. Beliau merupakan salah satu tokoh inspiratif Daeng Situju. Beliau yang lahir dari keluarga dengan keadaan ekonomi bawah mampu membuktikan bahwa selama masih bernapas, apapun dapat diraih. Tidak ada yang mustahil. Prof. Hamdan yang lahir dari keluarga tidak berada mampu menyelesaikan studi di Kanada dan telah beberapa kali melakukan hijrah lintas benua. Jika menggunakan logika, orang dengan tingkat ekonomi pas-pasan bahkan kurang, mustahil bisa melakukan itu. Namun beliau berhasil mematahkan logika rendahan seperti itu.

(Baca juga: Anchor: Jangkar perubahan untuk pengembangan diri)

Dalam seminar yang dibawakannya, beliau menyoroti pentingnya menghargai sebuah proses. Menginginkan hasil tanpa mau berproses adalah angan-angan semu yang tidak akan pernah terwujud. Beliau menegaskan dengan mengatakan “Bermimpilah setinggi mungkin”. Lebih lanjut dijelaskan, mimpi merupakan imajinasi yang terukur; yaitu mengimajinasikan sesuatu dan menyusun strategi untuk menggapainya. Sedangkan menghayal tak lebih dari sekadar angan-angan kosong; yaitu angan-angan tanpa strategi meraih apa yang diangan-angankan.

Jangan membanding-bandingkan

Satu hal yang menghambat sebuah proses adalah sering membanding-bandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain. Pertama, kita ceenderung melihat keluar dibanding melihat kedalam; yaitu melihat apa yang dimiliki orang lain yang tidak kita miliki. Kedua, kita cenderung melihat keatas dibanding melihat kebawah. Melihat keadaan orang yang lebih tanpa melihat keadaan orang yang lebih lemah atau kurang dari kita. Ketiga, kita cenderung melihat kelemahan dibanding melihat kelebihan; yaitu fokus pada apa yang tidak bisa kita kerjakan dibanding melihat pencapaian sukses kita dimasa lalu.

Membanding-bandingkan hanya akan membuat kita pesimis, tanpa pergerakan, dan berujung pada penyesalan. Ketika kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, secara tidak sadar kita mengatakan pada alam bawah sadar kita bahwa kita tidak bisa. Jangankan berhasil, mencobapun tidak. Wajar saja jika hasilnya mengecewakan.

Hasil

Telah disinggung pada paragraf pembuka bahwa hasil hanya bisa didapatkan hanya jika kita melewati sebuah atau rangkaian proses. Jalan tiap orang berbeda-beda. Seorang teman mencontohkan poin ini dengan sempurna. Katakanlah Anda berdiri pada sisi sebuah ruangan dengan lantai keramik, dan tujuan Anda adalah sisi lain dari ruangan tersebut yang berlawanan dengan sisi dimana Anda berada. Bayangkan diri Anda seperti seekor semut yang berjalan mencapai hasil (sisi lain dari ruangan). Pada lantai keramik, terbentang beragam jalan; yaitu garis pemisah antar-keramik atau nat. Ada semut yang melewati garis lurus hingga mencapai hasil, ada pula semut yang memilih jalan berkelok; mengambil tikungan kiri dan kanan untuk mencapai hasil. Ujungnya, Anda akan berada pada titik yang sama. Itu hanya akan didapatkan jika kita pantang menyerah.

(Baca juga: Strategi mendapatkan perhatian lawan bicara)

Sebuah pepatah kuno mengatakan, “Anda tidak pernah tahu seberapa dekat diri Anda dengan keberhasilan”. Ibarat menggali sebuah sumur. Anda terus mencangkul dan menggali. Merasa galian sudah sangat dalam namun belum juga menemukan sumber air, Anda kemudian menyerah dan berhenti. Pedahal bisa saja tinggal 2 – 3 kali cangkulan lagi mata air sudah ditemukan.

Kesimpulan

Sebagai penutup, sebisa mungkin, hargailah setiap proses yang ada. Jangan menganggap hambatan sebagai hambatan. Hambatan seyogyanya merupakan sebuah tes tentang seberapa kuat keinginan Anda menggapai hasil yang didambakan. Jika merasa memiliki masalah, ingat bahwa setiap orang didunia ini juga memiliki masalah. Masalah besar dan masalah kecil itu tidak ada. Jikapun ada, Anda saja yang membuatnya menjadi besar. Ingat bahwa masalah hanya ada dalam pikiran. Semesta dan seisinya ini sebenarnya netral. Persepsi Andalah yang membuatnya condong kepada satu sisi (masalah atau bukan). Banyak yang merasa memiliki masalah dengan uang yang kurang atau pas-pasan. Jika didalami, sebenarnya masalahnya bukan pada uang yang pas-pasan, melainkan karena Anda yang salah mempersepsikan uang tersebut. Buktinya, begitu banyak orang yang bisa sukses meski tidak memiliki modal sekalipun. Beberapa diantaranya bahkan memiliki banyak hutang, namun bisa sukses.

ARTIKEL TERKAIT

1 respon

  1. setuju daeng, kalo membanding-bandingkan hanya akan membuat kita pesimis, tanpa pergerakan, dan berujung pada penyesalan…
    keep happy blogging always…salam dari Banjarbaru – Makassar :-)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven − 7 =