Hooqing: Metode Percepatan Akulturasi Budaya

Jika Anda penikmat karya seni visual, maka HOOQ wajib bertengger di deretan aplikasi smartphone Anda. Jika belum meng-install-nya padahal sekarang sudah 2017, disarankan mencobanya saat ini juga. Saran ini tentu memiliki dasar pemikiran logis. Pertama, telah disinggung pada dua artikel sebelumnya bahwa bahasa Inggris telah menjadi kebutuhan dasar manusia abad ke-21 (baca di: HOOQ: Membuka Jendela Dunia Melalui Entertainment). Pada artikel sebelum ini, telah disinggung pula bagaimana HOOQ menikahkan entertainment dengan pembelajaran (lebih lengkapnya baca di: HOOQ: Menikahkan Hiburan dengan Pembelajaran). Pembaca sekalian pasti sepakat tentang pentingnya penguasaan bahasa Inggris dalam menunjang kualitas kehidupan abad ke-21. Berita baiknya, HOOQ telah mengakomodasi kebutuhan kita untuk itu. Landasan logis kedua akan dijelaskan melalui artikel ini. Meskipun masih berkutat pada domain pendidikan, artikel kali ini dijamin akan jauh lebih seru. So, pantau terus hingga akhir kalimat.

Entertainment untuk Perbaikan Kualitas Hidup

Entertainment seyogyianya bertujuan untuk menghibur. Secara literal memang bermakna demikian. Sudut pandang dan persepsi baru yang dihadapkan pada tuntutan zaman kemudian memperluas makna hiburan itu sendiri yang awalnya hanya sekadar hiburan menjadi media belajar. Perlu diingat, dan telah dibahas sebelumnya, bahwa pemerintah Indonesia sejak lama telah mewajibkan penguasaan bahasa Inggris yang dibuktikan dengan ditetapkannya bahasa Inggris sebagai syarat kelulusan di sekolah formal. Selain itu, dalam dunia kerja, sertifikat TOEFL atau IELTS juga selalu menjadi syarat. Bahkan pada beberapa profesi, pilot contohnya, TOEFL wajib diperbaharui 6 bulan sekali. Jika tidak mampu berbahasa Inggris jangan harap bisa menjadi pilot. Untuk manfaat yang lebih umum, penulis mencoba menguraikan poin-poin dibawah secara sederhana.

Keseimbangan Otak Kiri dan Otak Kanan

Dalam praktek pendidikan di Indonesia, sangat jelas terlihat bahwa target utama pendidikan adalah untuk otak kiri. Tidak heran jika cerdas itu dinilai dari kemampuan berhitung. Disisi lain, orang yang pandai melukis atau memainkan instrumen musik hanya dijuluki sebagai orang kreatif. Kata cerdas tidak pernah disandangkan kepada orang dominan otak kanan. Hal ini tentunya sangat ironis mengingat banyak dari kita yang ditakdirkan dominan otak kanan.

Howard Gardner (1993) dalam karya revolusionernya yang berjudul “Frames of Mind” mengungkapkan 8 jenis kecerdasan, antara lain: linguistic competence, logical-mathematical, spatial, musical, bodily-kinaesthetic, naturalistic, interpersonal, dan intrapersonal competence. Teori yang lebih dikenal dengan istilah “Multiple Intelligences (MI)” tersebut mengklasifikasi kecerdasan manusia dengan mengakui eksistensi kecerdasan otak kanan dengan memasukkan kecerdasan spasial dan musikal didalamnya. Hal ini terasa lebih adil dan manusiawi mengingat tidak semua manusia dilahirkan dengan potensi otak kiri lebih superior. Hal ini diperparah dengan praktek pendidikan yang mengutamakan kecerdasan otak kiri seperti logical-mathematical competence.

HOOQ nampaknya mengerti betul akan ketimpangan ini. Pemahaman tersebut dibuktikan dengan disediakannya lebih dari 10.000 film lokal dan mancanegara dalam upaya mengakomodasi keseeimbangan otak kiri dan otak kanan melalui entertainment. Setelah otak kiri dibombardir di sekolah atau di kampus, kita dapat melancarkan treatment kepada otak kanan kita melalui entertainment. Hal inilah yang menjadi kebiasaan penulis yang saat ini berstatus sebagai mahasiswa.

Keseimbangan Penggunaan Hemisfer Otak

Para pakar dalam riset ilmiahnya yang menginvestigasi keseimbangan hidup menitik-beratkan pentingnya kemampuan menyeimbangkan dunia kerja (termasuk aktivitas di sekolah) dengan relaksasi (Steptoe, Cropley & Joekes, 1999; Loretto et al: 2005). Penulis rasa semua tentu sepakat jika ‘menonton film’ disebutkan sebagai cara terpraktis dan efisien dalam hal ini.

Berdasarkan perspektif neuropsikologi, emosi didefinisikan sebagai reaksi-reaksi individu terhadap rangsangan-rangsangan tertentu yang meliputi penilaian, ekspresi, pengalaman, gairah, dan kegiatan yang berorientasi tujuan (Plutchik, 1984). Keterkaitan antara emosi dan pikiran dapat digambarkan sebagai dua sisi koin yang tidak akan pernah lepas satu dan lainnya. Didalam otak kita, terdapat bagian yang dikenal dengan nama amygdala yang berfungsi mengatur emosi. Emosi seindiri merupakan bagian dari kecerdasan (emotional intelligence). Untuk membuktikannya sangat sederhana, coba Anda ingat peristiwa menyenangkan dimasa kecil Anda. Resapi seluruh gambaran dan sensasi yang muncul dibenak Anda. Jaga pola nafas Anda tetap teratur dan dengan tempo pelan. Jika Anda merasa seolah-olah Anda kembali ke masa lalu, maka Anda telah memberdayakan pikiran Anda untuk mengubah emosi. Tanpa Anda sadari, Anda baru saja menggunakan kemampuan hemisfer kanan otak Anda. Dan ini bagus untuk pengembangan otak Anda.

Menonton film-pun demikian. Film merangsang otak kanan untuk lebih aktif. Gambaran visual dan input auditorial saat menonton mengarahkan otak kanan Anda untuk berimajinasi, menebak alur cerita, dan terkadang membuat Anda seolah-olah menjadi bagian dari peristiwa didalam film yang Anda tonton. Terkadang, Anda bahkan merasa sebagai tokoh utama dari film tersebut. Dilain sisi, Anda melakukan ‘pencocokan’ dengan kehidupan nyata Anda; entah itu peristiwa yang telah lalu atau peristiwa yang sedang terjadi.

Leo J (2009) menjelaskan bahwa kinerja otak kita kerap kali tidak optimal bukan disebabkan karena penurunan kualitas ingatan; melainkan karena terlalu banyak hal yang harus diproses secara bersamaan dalam satu waktu. Ledakan informasi melampaui pemrosesan alami otak sehingga seseorang bahkan tidak mampu mengingat satu unit informasipun. Oleh sebab itu penting dilakukan refreshing untuk mengembalikan otak kepada kemampuan optimalnya. Berkaitan dengan hal ini, hooqing adalah metode favorit penulis karena HOOQ dapat diakses dimana saja dan kapan saja.

Pengalaman Hooqing dan Manfaat Praktis

Belum lama ini, penulis melakukan mini-research dengan merekrut beberapa partisipan dari Thailand dan Philippines yang sedang magang di Indonesia; lebih tepatnya di Kota Makassar, tempat penulis berdomisili. Mereka adalah mahasiswa yang mengikuti program seateacher (http://seateacher.seameo.org/seateacher/). Penelitian ini menginvestigasi cultural and communication barriers yang mereka alami selama berada di daerah yang baru pertama kali mereka dikunjungi. Hasilnya, mereka mengalami apa yang dikenal dengan istilah ‘culture shock‘. Dampaknya, mereka kesulitan dalam bersosialisasi dengan hambatan budaya dan bahasa yang sangat jauh berbeda. Sewaktu mereka mengutarakan niat untuk belajar, penulis menyarankan untuk menonton film Indonesia dan memperhatikan bagaimana aktor dan aktris didalamnya berinteraksi dan bersosialisasi. Singkat kata, mereka merasa metode ini cukup membantu dan efektif.

Satu contoh, film legendaris berjudul ‘Ada Apa dengan Cinta 2’ yang disediakan HOOQ (nonton di link ini: https://www.hooq.tv/player/d51f6aaa-74fd-49ff-ba54-51cde4eb7972) ini dirasa cukup membantu mengingat film ini turut menampilkan interaksi lintas budaya. Disini terlihat bagaimana karakter dan pola interaksi alami orang Indonesia dalam bersosialisasi. Meskipun hanya acting, namun tingkah laku seorang manusia sangat dipengaruhi oleh budayanya sehingga tergambar bagaimana kita akan bereaksi dan berinteraksi dengan manusia dari kultur berbeda.

View post on imgur.com

(Mas Rangga lagi HOOQING)

HOOQ yang tidak hanya menyediakan ribuan film mancanegara, namun juga film lokal Indonesia telah membantu proses akulturasi budaya melalui film. Perlu diketahui bahwa pernyataan tersebut bukanlah hipotesis penulis. Dalam berbagai literatur, menonton film untuk menunjang percepatan akulturasi budaya memang sangat disarankan. Anda yang berencana melancong ke luar negeri disarankan untuk terlebih dahulu mempelajari pola interaksi masyarakat dari negara yang akan Anda tuju melalui film. So, hooqing will be the best and wisest choice! Just try it!

Keep HOOQING!

NOTE: HOOQING /huuking/ (gerund/present participle) – An effective method for acculturation through watching film | I am hooqing (present participle) a wonderful film on www.hooq.tv | Hooqing (gerund) helps me acculturate new culture.

REFERENSI

Gardner, H. 1985. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. London.

Leo, J.2009. Seven: The Number of Happiness, Love, and Success. PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN: 978-979-22-7032-7.

Loretto, W., Popham, F., Platt, S., Pavis, S., Hardy, G., MacLeod, L., et al. (2005). Assessing psychological well-being: A holistic investigation of NHS employees. International Review of Psychiatry, 17(5), 329-336.

Plutchik, R. (1984). Emotions: A general psychoevolutionary theory. In K. R. Scherer & P. Ekman (Eds.), Approaches to Emotion (pp. 197-219). Hillsdale, NJ: Erlbaum.

Steptoe, A., Cropley, M., & Joekes, K. (1999). Job strain, blood pressure and response to uncontrollable stress. Journal of Hypertension, 17(2), 193-200.

ARTIKEL TERKAIT