KEYAKINAN YANG MENGHAMBAT PERKEMBANGAN DIRI

Berdasarkan teori beberapa ahli yang mumpuni dalam bidang pengembangan diri, dikatakan bahwa perkembangan diri seseorang seringkali terhambat oleh beberapa faktor. Faktor penghambat tersebut bahkan terkadang menjadi sebuah momok yang sangat menyeramkan jika terus dipelihara. Dengan mengetahui keyakinan yang menghambat perkembangan diri berikut ini, maka upayakan ada perubahan setelahnya. Memang tidak mudah untuk menghancurkannya dalam waktu sekejap. Semua butuh waktu untuk berproses. Berikut ini merupakan keyakinan yang menghambat perkembangan diri.

Terlalu Tua atau Terlalu Muda

Untuk memulai sesuatu, terkadang kita dihadapkan pada benturan atas keyakinan seperti ‘Saya sudah terlalu tua’ atau ‘Saya masih terlalu muda’. Faktanya, banyak dari orang-orang sukses yang mengatakan bahwa keyakinan tersebut adalah salah satu dari sekian banyak keyakinan yang tidak baik untuk dipelihara. Untuk menghancurkannya dibutuhkan beberapa latihan dan percobaan yang tingkatannya relatif; bisa mudah, bisa juga sulit, tergantung dari ketahanan Anda. Sebagai langkah awal, dibutuhkan keberanian untuk mengakui ada atau tidaknya keyakinan ini. Setelah menganalisa keberadaan keyakinan ini, proses penghancuran baru bisa dimulai. Bagaimana bisa kita menghancurkan sesuatu yang tidak kita ketahui keberadaannya? Tentunya akan sangat sulit untuk memenangkan pertempuran dengan musuh yang tidak terlacack. Sepakat???

Setelah menganalisa ada tidaknya keyakinan yang menghambat ini pada diri kita, proses penghancuran bisa dimulai dengan memperbanyak input yang bisa diperoleh dari mendengar atau membaca cerita orang-orang sukses. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan. Pertama, bagi kebanyakan orang, secara psikologis, mengetahui ada orang yang lebih parah dari mereka dapat menguatkan mereka. Sebagai contoh, orang yang memiliki keyakinan ‘Saya terlalu tua untuk memulai sebuah bisnis’, ketika membaca cerita tentang seseorang yang memulai bisnis diusia 56 tahun, maka orang tersebut akan berbisik dalam hati ‘Jika dia yang lebih tua bisa melakukannya, maka saya yang lebih muda darinya tentu lebih berpeluang’. Kedua, secara psikologis, ketika mengetahui ada yang lebih dahulu melakukan atau membuktikan, biasanya akan timbul semangat yang luar biasa dahsyat. Misalnya, orang yang memiliki keyakinan ‘Saya terlalu muda untuk menjadi seorang pemimpin’, ketika mengetahui bahwa di sebuah kota di Palestina, ada seorang walikota yang masih berumur 15 tahun bernama Bashaer Othman, maka orang tersebut akan merasa ‘Saya juga bisa’.

Saya Tidak Bisa

Jenis keyakinan yang menghambat ini sama dengan ‘Saya tidak mampu’, ‘Saya tidak yakin bisa’, dan lain sebagainya yang merujuk kepada kondisi yang serupa. Pernahkah Anda kebingungan mencari kunci rumah atau kunci kendaraan yang belakangan diketahui ternyata kunci tersebut berada di tangan Anda atau di dalam saku Anda? Atau mencari kebingungan kacamata yang ternyata berada di atas dahi Anda? Atau mencari remote TV yang ternyata belakangan ditemukan tidak jauh dari posisi Anda? Mayoritas pernah mengalami hal tersebut. Apa hubungannya kejadian-kejadian tersebut dengan sub-judul ini? Contoh kejadian-kejadian tersebut merupakan gambaran bagaimana sebuah keyakinan yang salah benar-benar menjadi senjata ampuh untuk mengungkung Anda dalam berkembang. Anda meyakini hal negatif dan sangat fokus pada hal tersebut. Akibatnya, hal-hal positif menjadi tidak terlihat. Anda yang mencari kunci menjadi sanagt fokus pada keyakinan ‘Kunci saya hilang’ sehingga keyakinan Anda tersebut menutup segala sesuatu yang dapat membuat Anda menemukan kunci yang Anda cari.

Sama halnya dengan memiliki keyakinan ‘Saya tidak bisa’ atau ‘Saya tidak mampu’, Anda juga akan menutup kemungkinan untuk menemukan ke-‘bisa’-an dan ke-‘mampu’-an Anda. Jika Anda fokus pada ketidak-‘bisa’-an Anda, Anda akan serupa dengan orang yang mencari kunci yang belakangan ditemukan berada didalam saku celana Anda. Jika memiliki keyakinan seperti ini, jangankan menyusun strategi, untuk mencoba-pun tidak akan Anda lakukan.


Mengubah sudut pandang, atau yang dalam istilah NLP (neuro-linguistic programming) dikenal dengan ‘reframing‘, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi tidak juga berarti ‘sulit’ atau bahkan ‘mustahil’ untuk dilakukan. Satu hal yang Anda butuhkan hanyalah pembiasaan. Sebagai contoh, Anda yang terbiasa tidur pada pukul 9 malam, ketika pertama kali mencoba untuk tidur pada pukul 2 malam tentu akan sangat sulit. Sama halnya ketika orang yang tidak terbiasa membaca kemudian dihadapkan pada jejeran buku setebal 300 halaman. Anda yang bermental negatif tentunya tidak mendapatkan state tersebut secara langsung. Disadari atau tidak, Anda membentuknya melalui sebuah proses. Untuk mengubahnya, dibutuhkan proses yang sama.

Perilaku kita terbentuk dari apa yang menjadi kebiasaan kita. Keyakinan positif maupun negatif muncul karena adanya input yang salah satunya berasal dari lingkungan; input yang masuk secara terus-menerus hingga akhirnya mengendap menjadi keyakinan. Itulah sebabnya mengapa kita senantiasa dianjurkan untuk sering-sering berkumpul bersama orang yang memiliki mental positif. Sebagai kesimpulan dari artikel ini, berhati-hatilah terhadap input yang Anda dapatkan. Jadilah orang yang sangat selektif dalam mendengar dan melihat.

ARTIKEL TERKAIT

2 respon

  1. Ala bisa karena biasa, ya Daeng.

    Saya aktif menulis bukan dari kecil, melainkan sejak usia mendekati 37 tahun (4 tahun yang lalu). Alhamdulillah … saya bisa menyamai mereka yang senang menulis sejak kecil.

  2. Luar biasa Bu Mugniar. Saya sering membaca artikel-artikel di blog Anda. Jika melihat struktur dan gaya penulisan Anda, saya bahkan menduga Anda memiliki talenta menulis sejak lahir. Luar biasa Bu. Ternyata mulai menulis usia 37..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten − 7 =