Setiap Orang Dilahirkan Sebagai Jenius

Jenius adalah kata sandang yang diberikan kepada mereka yang dianggap luar biasa dan superior. Tidak banyak yang mengethaui bahwa setiap manusia diciptakan sebagai seorang jenius. Wajar saja, hal ini dikarenakan kultur kita yang belum cukup dewasa dalam menilai kecerdasan seseorang. Kultur kita menganggap bahwa hanya mereka yang cepat menghapal sajalah yang cerdas. Atau, hanya mereka yang pandai berhitung sajalah yang cerdas. Padahal faktanya, itu hanya satu dari sekian banyak kecerdasan yang dianugerahkan tuhan kepada kita. Ditambah lagi, sistem pendidikan di negara kita yang hanya menghargai mereka dengan kecerdasan otak kiri yang lebih dominan. Sebagian yang dominan otak kanan tidak masuk perhitungan, bahkan dicap ‘lamban’.

Bukti Anda Jenius

Artikel ini tidaklah ditulis hanya untuk membesarkan hati Anda. Cap atau label yang Anda yakini terhadap diri Anda sebenarnya adalah cap atau label yang direkatkan kepada Anda oleh orang-orang dimasa lalu. Misalnya, guru, orang-tua, teman, bahkan sanak keluarga sendiri. Bersyukurlah jika Anda memiliki citra diri yang positif. Jika sebaliknya, maka perlu penanganan yang dapat dikatakan ‘cukup serius’ mengingat ‘penyakit’ citra diri negatif adalah penyakit yang tidak terlihat namun sangat mematikan; dapat mematikan karakter Anda sebagai manusia dengan fitrah. Selain itu, citra diri negatif juga berarti mengingkari kebesaran tuhan yang sekaligus menyangkal kalimat “Manusia adalah sebaik-baik ciptaan-Nya”.

Contoh dari cap atau label negatif yang dimaksud dapat berupa: “Kamu bodoh!”, “Kamu lamban!”, Kamu tidak bisa apa-apa!”, “Kamu tidak mampu!”, “Kamu pelupa”, dan lain sebagainya. Cobalah Anda luangkan waktu sejenak. Berhenti baca artikel ini untuk sementara dan berikan waktu kepada pikiran Anda untuk merenungkan “Suatu kejadian sewaktu Anda dapat menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan sempurna”. Saya minta Anda membayangkan detail dari peristiwa tersebut dari awal hingga akhir.

Sudah selesai??? Bagaimana perasaan Anda sekarang? Sudah lebih bersemangat? Apakah sewaktu membayangkan tadi Anda ingin atau sempat tersenyum?

Itu salah satu bukti kecil bahwa Anda dilahirkan bersama kejeniusan Anda sendiri. Pertama, Anda masih mampu mengingat kejadian yang telah lama berlalu. Ini bukti Anda punya potensi mengingat yang luar biasa atau dengan kata lain, ingatan Anda baik-baik saja. Kedua, kemampuan Anda yang masih mampu menghadirkan kembali perasaan yang persis sama dengan yang Anda rasakan pada waktu itu membuktikan bahwa serabut-serabut tipis dalam otak Anda masih terkoneksi dengan baik. Inilah yang menjadi takaran atau ukuran kecerdasan seseorang. Jadi, perlu diketahui bahwa bukan banyaknya neuron dalam otak yang menentukan kejeniusan seseorang, melainkan seberapa banyak koneksi yang terjalin.

Berikut ini merupakan bukti selanjutnya bahwa Anda tidaklah seburuk seperti yang orang katakan. Coba bayangkan sebuah jeruk nipis hijau yang masih muda ditangan kiri Anda dan pisau dapur yang tajam di tangan kanan Anda. Selanjutnya, bayangkan Anda meletakkan jeruk nipis hijau tersebut ke sebuah meja dan belah jeruk nipis tersebut dengan pisau yang ada di tangan kanan Anda. Bayangkan air jeruk yang menempel di pisau menetes ke meja setetes demi setetes, beberapa tetes menetes ke kaki Anda. Perhatikan sari jeruk nipis yang menetes tersebut. Selanjutnya, amati jeruk nipis yang berlumur sari-sari jeruk nipis yang baru saya Anda belah dalam pengalaman imajiner Anda dan bayangkan Anda memeras belahan jeruk nipis tersebut ke lidah Anda. Biarkan sari jeruk nipis tersebut menetes deras ke permukaan lidah Anda. Bayangkan Anda memerasnya hingga semua sari jeruk nipis tersebut tumpah ke lidah Anda dan masuk kedalam tenggorokan Anda.

Apa yang baru saja Anda lakukan adalah sebuah hal yang luar biasa. Pertama, Anda tidak benar-benar memiliki jeruk nipis dan pisau. Kedua, Anda tidak benar-benar membelahnya dan memerasnya. Tapi, air liur Anda saat ini terasa sangat banyak memenuhi mulut Anda. Anda telah menghadirkan sebuah sensasi yang pengalamannya tidak benar-benar Anda rasakan secara nyata. Benar-benar ajaib otak Anda!!!

Takaran Kejeniusan

Jenius itu relatif. Tergantung dari sisi mana yang Anda lihat. Jika Anda melihat kejeniusan hewan dari kepandaiannya berenang, maka burung tentu akan dicap sebagai tidak jenius. Sebaliknya, jika takaran kejeniusan yang Anda pilih adalah kepandaian untuk terbang, maka ikan akan menjadi hewan yang paling rendah derajat kejeniusannya.

Maksudnya adalah, jangan men-judge diri Anda yang mungkin kurang pandai dalam bidang matematika atau fisika sebagai manusia yang tidak jenius. Tentunya Anda lahir dengan segudang potensi; ada potensi bawaan, ada juga potensi yang Anda dapatkan dari pengalaman hidup Anda selama ini. Anda yang mungkin kurang tanggap dalam menyelesaikan soal-soal matematika bisa jadi sangat cepat dalam belajar bahasa atau sangat piawai dalam memainkan kecerdasan spasial Anda. Bisa jadi bakat Anda ada dibidang lain selain dibidang matematika. Untuk itu, sangat penting bagi Anda untuk lebih giat belajar dan terus mengembangkan potensi.

Jean-Dominique Bauby

Pernahkah sebelumnya Anda mendengar nama Jean-Dominique Bauby? Jika belum, maka Daeng Situju akan memperkenalkan beliau kepada Anda.

Jean-Dominique Bauby adalah salah seorang penulis handal nan hebat yang pernah ada di muka bumi ini. Saya yakin Anda juga mengenal, paling tidak mengetahui, beberapa nama penulis handal nan hebat lainnya. Apakah Anda bisa menyebutkan beberapa nama penulis kawakan yang handal nan hebat??? Kalau iya, coba Anda sebutkan namanya sebelum melanjutkan bacaan ke paragraf berikutnya.

Jean-Dominique Bauby ini sama sekali berbeda dengan nama-nama penulis handal nan hebat yang baru saja Anda sebutkan. Ia adalah seorang penyandang penyakit bernama ‘locked-in syndrome‘. Karena penyakit tersebut, ia hanya bisa menggerakkan mata kirinya saja, sisa tubuh lainnya kaku tak berdaya. Namun, bersama penyakitnya tersebut, ia mampu menerbitkan karya tulisnya.

Perjuangannya dalam menerbitkan sebuah buku memang tidak lepas dari bantuan dari orang lain. Adalah Mendibil, asistennya, yang membantunya menulis huruf demi huruf yang didiktekan kepadanya hanya dengan bahasa isyarat mata kiri Jean-Dominique Bauby. Bauby akan mengedipkan matanya satu kali untuk ‘ya’, dan kedipan dua kali untuk ‘tidak’. Jadi, Mendibil mencoba untuk menginterpretasikan pesan yang dikirimkan oleh Bauby lalu menunggu isyarat berupa kedipan mata Bauby untuk kemudian ditulis. Luar biasa bukan?

ARTIKEL TERKAIT