STRATEGI MENDAPATKAN PERHATIAN LAWAN BICARA

Sebagai lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul “Pola Komunikasi Persuasif dalam Bisnis“, kali ini akan dibahas mengenai strategi mendapatkan perhatian lawan bicara. Pada artikel sebelumnya, telah dijelaskan beberapa poin yang berkaitan dengan ‘seni mempengaruhi‘ lawan bicara terkhusus dalam dunia bisnis. Berikut ini, akan dijelaskan beberapa poin lanjutan yang juga sangat penting untuk diketahui.

Berikan Perhatian

Jika Anda menginginkan perhatian lawan bicara, terlebih dahulu Anda harus memberikan perhatian kepada lawan bicara Anda. Anda benar-benar akan mendapatkan apa yang telah Anda berikan. Berikanlah terlebih dahulu, maka hal yang sama akan datang pada Anda. Anda bisa membuka pembicaraan dengan membahas hal-hal yang ringan dan mintalah pendapat lawan bicara Anda. Sebisa mungkin, pancinglah lawan bicara Anda untuk berbicara mengutarakan pendapatnya. Selama lawan bicara Anda mengutarakan pendapatnya, berilah perhatian dengan menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipaparkan pada artikel yang berjudul “Pola Komunikasi Persuasif dalam Bisnis“. Ketika Anda menerapkan prinsip-prinsip tersebut, itu berarti Anda akan memancarkan sebuah gelombang positif kepada lawan bicara Anda. Ia akan menangkap pesan positif dari Anda hingga muncul suara dalam alam mentalnya yang berkata ‘Orang ini asyik juga yah…’. Dengan begitu, akan tercipta jalinan batin antara Anda dengannya.

Perhatian Anda akan membuka jalinan kedekatan. Ketika lawan bicara Anda merasa Anda orang yang enak diajak berkomunikasi, maka pada saat itu, ia telah membuka pintu perhatiannya kepada Anda. Perlu diketahui bahwa menarik perhatian orang itu sangatlah mudah. Yang sulit adalah mempertahankan perhatian lawan bicara. Dalam komunikasi, terkadang kita mengalami beberapa gangguan dari faktor-faktor eksternal misalnya handphone yang berbunyi, datangnya orang ketiga, dan lain sebagainya. Lalu, bagaimana cara meminimalisir gangguan yang mungkin muncul saat berkomunikasi?

Pahami Tipikal Lawan Bicara

Pertama-tama, pahami terlebih dahulu tipikal lawan bicara Anda. Dengan kata lain, untuk mendapat perhatian, ‘Masuk/selami dunia lawan bicara Anda’. Pahami apakah ia tergolong orang yang dominan ‘visual‘, ‘auditori‘, ataukah ‘kinestetik‘. Meskipun rata-rata orang memiliki tipikal gabungan; misalnya visual dan kinestetik, namun pasti ada satu yang lebih dominan. Menghadapi orang dengan tipikal berbeda akan membutuhkan strategi berbeda. Menggunakan strategi yang salah bisa berakibat kurang maksimalnya pencapaian/tujuan. Sebagai contoh, menggunakan kata atau frasa visual kepada orang yang dominan kinestetik akan membuat Anda tampak membosankan. Besar kemungkinan lawan bicara Anda tidak akan menaruh perhatian lebih kepada poin pembicaraan karena menganggap Anda kurang menarik meskipun poin yang akan Anda bicarakan seharusnya sangat menarik.

Tipikal Visual

Menghadapi orang dengan tipikal visual bisa dilakukan dengan menghadirkan sesuatu yang bisa dilihat. Jika Anda adalah seorang sales atau orang yang sedang melakukan prospek terhadap seseorang dengan tipikal ini, sodorkanlah padanya beberapa media visual yang bisa berupa printed-material seperti proposal bisnis yang memuat bagan dan/atau gambar, dan lain sebagainya. Bisa juga dengan memperlihatkan sesuatu yang berkaitan dengan produk/jasa bisnis Anda (misalnya gambar produk, dsb) dari handphone Anda. Yang paling utama, perhatikan verb atau kata kerja pada setiap ujaran/perkataan Anda. Gunakan kata kerja yang berhubungan dengan ‘melihat’ seperti:

Mari kita lihat apa yang terjadi jika bisnis ini berjalan sesuai rencana.

Mari kita saksikan bagaimana gambaran keuntungan dari bisnis ini.

Disini terlihat bagaimana suksesnya strategi yang selama ini saya jalankan. Saya akan memandu Anda.

Anda bisa mengamati orang-orang yang mengkonsumsi produk pelangsing ini. Mereka semuanya puas.

Tipikal Auditori

Orang dengan tipikal ini lebih sering menggunakan kata kerja seperti ‘Saya dengar’. Untuk masuk kedalam dunia orang yang dominan audio, gunakanlah kalimat yang mengandung kata kerja seperti ‘Saya dengar’. Berikut beberapa contoh kalimat yang efektif untuk menarik perhatian orang dengan tipikal auditori.

Saya dengar dari beberapa media, produk kami yang satu ini sangat populer dan diminati oleh masyarakat. Jadi, Anda tidak perlu khawatir masalah prospek produk kami.

Saya dengar-dengar, produk ini dicari-cari di daerah Anda. Anda bisa menjualnya disana. Pasti laku keras. Apalagi Anda adalah orang yang hebat dalam bersosialisasi.

Saya dengar dari beberapa kolega, mereka mendapatkan keuntungan yang berlimpah dari penjualan produk ini. Saya ingin mendengar berita yang sama dari Anda.

Tipikal Kinestetik

Orang dengan tipikal ini adalah ia yang sangat aktif dan perasa. Untuk menjalin komunikasi yang akrab atau untuk mendapatkan perhatian lawan bicara dengan tipikal kinestetik, sebisa mungkin jadikan diri Anda sefleksibel mungkin dengan banyak-banyak berbicara tentang perasaan (mental) dengan menggunakan verb atau kata kerja yang mengandung ‘pergerakan’ atau ‘merasa’ seperti:

  • Saya rasa, produk ini akan laku keras dipasaran;
  • Perasaan saya mengatakan bahwa Anda adalah orang yang hebat dalam memasarkan produk. Pasti Anda merasakan hal yang sama terhadap diri Anda sendiri;
  • Rasa-rasanya banyak yang akan membeli produk ini;
  • Mari kita buktikan (cek) langsung dilapangan. Kita harus memantau secara langsung bagaimana prospek produk ini dipasaran.

Deteksi Tipikal Lawan Bicara

Ciri-ciri Visual

Orang dengan tipikal ini bisa dideteksi dengan memperhatikan kata kerja yang sering ia gunakan ketika berbicara. ‘Saya lihat’, ‘Saya amati’, ‘Saya perhatikan’, dan lain sebagainya adalah ciri-ciri kalimat dari orang yang dominan visual. Ketika lawan bicara sering mengeluarkan kata kerja yang berkaitan dengan penglihatan, maka hampir dapat dipastikan bahwa orang tersbeut dominan visual. Selain ciri-ciri tersebut, terdapat pula ciri-ciri lainnya yang Daeng Situju dapatkan dalam pembahasan neuro-linguistic programming, seperti:

  • Bicara dengan speed atau kecepatan yang sedikit lebih cepat dari kebanyakan orang;
  • Penampilan rapi dan modis;
  • Lebih mudah paham jika ‘melihat‘ langsung;

Ciri-ciri Auditori

Orang dengan tipikal auditori dapat dideteksi dengan memperhatikan tingkah laku khusus yang berbeda dari tipikal sebelumnya. Berikut beberapa ciri umum dari tipikal ini:

  • Sering menggerakkan bibir ketika sedang membaca;
  • Sering melakukan komunikasi dengan diri sendiri (berbicara kepada diri sendiri);
  • Bicara dengan intonasi dan artikulasi;
  • Pandai meniru bunyi-bunyian.

Ciri-ciri Kinestetik

Berikut ini ciri-ciri atau karakteristik umum yang biasanya dijumpai pada orang dengan tipikal kinestetik.

  • Selalu ingin mencoba/merasakan langsung (membuktikan dengan merasakan sendiri);
  • Aktif, dan terkadang hyperaktif;
  • Sering mengubah posisi (tidak bisa duduk dalam waktu yang lama);
  • Peka terhadap hal-hal yang menyangkut perasaan.

Sesuaikan Level Bahasa

Sebisa mungkin, sesuaikan tingkat bahasa Anda dengan lawan bicara Anda. Ada orang yang senang menggunakan istilah-istilah yang sulit dimengerti, ada juga yang kalimatnya sangat sederhana. Tentunya Anda lebih senang berbicara dengan orang yang selevel bukan?! Anda tidak perlu ikut-ikutan. Pembicara yang baik bukanlah ia yang banyak menggunakan istilah-istilah sulit dalam setiap kalimatnya, melainkan ia yang mampu bersifat fleksibel dalam komunikasinya. Jika menghadapi orang yang sering menggunakan istilah, sebisa mungkin gunakan juga istilah-istilah dalam komunikasi. Akan lebih bagus jika Anda sesekali mengulang istilah yang sebelumnya telah disebutkan oleh lawan bicara namun jangan terlalu sering. Dengan begitu, maka partner komunikasi Anda akan merasa bahwa Anda memiliki chemistry yang positif dan tentu saja, klop dengannya.

(Baca Juga: Rapport: Agar Semua Orang Senang Kepada Anda)

Eye-contact

Poin ini Daeng Situju pelajari dari salah seorang Profesor yang pernah memberikan mata kuliah di kelas Daeng Situju. Beliau mempraktekkan bagaimana bedanya komunikasi dengan eye-contact yang baik dengan yang tidak menggunakan eye-contact. Memang terasa jauh perbedaannya. Kami yang menjadi sample merasakan betul kedekatan yang lebih saat komunikasi dilangsungkan dengan memperhatikan aspek eye-contact dibanding dengan jika tidak ada eye-contact.

Eye-contact sendiri adalah menatap mata lawan bicara pada saat komunikasi berlangsung; baik ketika kita sedang berbicara, maupun pada saat lawan bicara yang berbicara. Idealnya, eye-contact dilakukan dengan jeda. Jangan terus-menerus menatap mata lawan bicara Anda. Lakukanlah se-natural mungkin. Eye-contact yang baik akan membuat Anda mendapatkan perhatian lebih dari lawan bicara sedangkan yang berlebihan akan membuat lawan bicara Anda kehilangan konsentrasi karena fokus pikirannya bukan pada poin yang Anda bicarakan, melainkan pada Anda dan perilaku Anda yang terkesan aneh. Lawan bciara akan merasa seolah-olah sedang diinterogasi, dan ini sangat tidak efektif. Jika eye-contact kurang, hal itu akan membuat Anda terkesan tidak yakin dengan apa yang Anda bicarakan.

Intonasi dan Penekanan

Lakukanlah penekanan khusus pada setiap keyword atau kata kunci dari kalimat Anda. Hal ini sangat penting guna memastikan bahwa poin yang sedang kita sampaikan benar-benar masuk dan dimengerti oleh lawan bicara kita. Penekanan bisa dilakukan dengan intonasi suara atau dengan gerakan tubuh. Pernah melihat bapak SBY saat berpidato? Beliau adalah contoh yang bagus dalam hal ini. Beliau selalu terlihat menggerakkan tangannya untuk memberikan penekanan-penekanan khusus pada poin yang sedang beliau bicarakan.

Posisi Tubuh

Saat berbicara, sebaiknya posisikan tubuh Anda serileks mungkin. Jaga jarak ideal Anda dengan lawan bicara Anda; tidak terlalu dekat, dan tidak terlampau jauh. Intinya, upayakan agar apa yang Anda katakan dengan volume normal dari suara Anda bisa terdengar jelas oleh lawan bicara Anda. Jangan buat lawan bicara Anda sering memiringkan kepalanya dengan maksud untuk menangkap/mendengar apa yang Anda katakan (memiringkan kepala adalah salah satu ciri orang auditori. Bedakan orang yang memiringkan kepalanya dengan maksud untuk mendengar dengan jelas apa yang Anda katakan dengan orang yang memiringkan kepalanya karena memang merupakan tipikal auditori).

Terkait poin ini, beberapa pakar komunikasi yang juga pakar NLP (neuro-linguistic programming) menyarankan agar posisi Anda dan lawan bicara pada saat berkomunikasi tidak berhadapan (tegak lurus). Sebisa mungkin, bergeserlah beberapa derajat kearah kiri atau kanan. Secara psikologis, posisi lurus berhadapan terkesan agak menegangkan. Hindari hal-hal yang membuat lawan bicara Anda merasa tegang. Ketegangan mengurangi daya konsentrasi dan perhatian. Ingat waktu Anda sekolah dulu. Bagaimana rasanya menghadapi guru killer? Saya jamin Anda hanya pura-pura memperhatikan saja. Mohon maaf kalau salah.

ARTIKEL TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten + 6 =